: kau  

tiba – tiba kutemui mimpiku yang membeku,
meleleh di beningnya khotbahmu yang menjelma pahatan putih bening
dan kusaksikan kenangan pucat pasi mengabarkan salam perpisahan

sambil mencium wangi cemara yang blingsatan keluar dari tubuhmu,
segerombolan serdadu berbaris, sepatu berderap – derap,
melesakkan puisi laki – laki baru
tubuhku pun gagap berkata menawarkan lukisan
dunia yang mengusungnya menuju langit biru

Palur, 28 November 2007

Katakan padaku : hitam itu indah  

ini bukan cerita senja yang beberapa putaran waktu lagi berbaur dalam hening dan sepinya hitam yang menyekapnya entah di negeri antah berantah.

Ini tentang pengawal malam yang mengantar mimpi senja beserta sesajen ataupun para dayang dan budak – budak setia ( agar tak termakan oleh hening dan sepinya hitam ) kepada embun yang selalu dibesarkan oleh pagi, esoknya.

Matesih, 18 Februari 2007

Takbir  

Aku hendak sembunyi dari elang mata mengintip

pada lubang kunci pintu belakang

dia yang utusan

Kau

pasalnya, aku mengeja takbir belum sempurna

dia nyelinap pada kuncup nadi

menyekap paru-ku dengan salam

aku bilang sudah

aku belum rampung mengemasi mimpi jingkrak

jingkrak mengharap langit dari gigir yang sembunyi

menenggelamkan takbir dalam parau

entah.

Kau maksud tentang takbir belum sempurna, benarkah?

Kau memapahku pada julur harap rindu

segala rindu

aku bilang nanti

Matesih, 21 Agustus 2007

Selanjutnya : aku  


aku pun masih mencium bau keringatmu

keringat yang kau gali dari kubangan darah

yang mengucur dari sela – sela nadi

dan dari situlah padi akan kau panen

darah, kini telah berhenti mengalir

tak kudapati lagi cangkul yang sengaja

kau pajang di ruang makan

hanya sisa – sisa bau keringat di bajumu

yang kini merayap dan lekat pada tubuhku

“ maafkan aku, sayang, aku lelah, biarkan darah itu mengucur dari tubuhmu dan kau yang akan menggali keringat “

Oktober 2007


Aku yang akan menyelesaikannya  

bukankah kita telah berjanji di atas bukit: menentang angin, mereguknya sebagai kemarau yang panjang?

tapi kau mengendap – endap meninggalkan petikan gitar yang pilu, mengental dalam sisa – sisa pementasan!

dan aku telah lelah merayu suara gitarmu turun dari arena

akan kurampungkan petikan gitarmu yang terakhir kali pada sunyi yang menguncup dalam darah, segera

September 2007

Pulanglah bersama hujan, sayang  


Tak ada yang dapat aku terjemahkan dari lantunan kidung yang merajam langit

Bukankah ia akan segera meretas pulang ke dalam hujan ?

Mencium bau tanah dengan ramah tamah ?

Lalu mengapa dirimu masih tetap saja berdiri di pinggir danau ?

“ menunggu angin, “ katamu

Angin akan datang bersama hujan !

“ Tidak, “ jawabmu sunyi

“ Angin akan datang dengan tubuhnya sendiri, tidak dengan hujan! “

Apakah aku telah datang sebagai angin yang menjelma badai endorfim-mu?

“ Berhentilah bersetubuh dengan hujan. “


September 2007


..waktu kita berbeda  

buat : n

aku tak tahu apa yang akan dikisahkan waktu dalam detak jantung nantinya

harapan akan sulit memberikan sebuah kepastian

dari ia – lah kita tahu, seperti apa mata kita bercengkrama

kau melihat apa yang lebih pantas bagiku, anggun kain yang melilit pahaku bukan sepotong celana

dan aku selalu reguk setiap kata, tapi aku tak yakin keyakinanku mengalahkan waktu yang aku bangun menciptakan helai – helai benang menutup rambutku dalam detak waktu yang laju, bukan dalam jantungku tapi dalam keyakinanku

adakah harapan memberikan kepastian tanpa harus aku yang meminta ?


Solo, 26 November 2007


Drama, drama  


Kita hanya terdiam, membiarkan keadaan tak mengenali tubuhnya sendiri

Sedang tawa kita adalah topeng, berharap akan ada sesuatu perubahan

Tapi kita enggan berkata bahwa darah kita sama

Kita hanya sebelah muka dalam hati lain yang mengalir di sepanjang babak drama yang kita mainkan, ia hanya terdiam menciptakan drama lain untuk kita ataupun rautnya sendiri

Dan kita semakin bersemangat menciptakan drama baru lewat tawa kita

Matesih, 15 November 2007

Ajiastra  

ajiastra…ajiastra…

bisikmu di selasela awal malam

aku dengar rindu ajiastra :

denting nama mengalun

pada melodi rantingranting lagu

dikawal para serdadu

mendesau tiap nafas

ia berderaiderai merengkuh senyapmu

berganti suka cita melengking

menggapai langit

menyimak bunyibunyian angkasa

ia hanya menorehkan guratan dalam gigilku

ajiastra terus merantai

menciptakan salju menyungkup beku

11 Desember 07

Aku ingin kau masih berpetuah  

Ketika rindu tak bisa kubenamkan dalam aliran waktu, membiarkan sepi lewat, akankah ku temui dirimu di antara pahatan relief mataku ?

Tapi Dia lebih dulu merenggut anganku tentang petuah darimu yang selalu tersaji menghadapi langkah – langkah kaki kecilku yang sebentar lagi akan tahu seperti apa bumi mengisahkan setiap detik peristiwa – Nya .

Akankah kau masih berpetuah dalam tekateki yang mengecup mesra riak di sepanjang sungai-ku ?

Temui aku dan berpetuahlah ketika kaki kecilku tersesat pada yang menyesatkan


29 Oktober 2007