diary purba yang terbakar  

meski kantuk telah usang

berangkat menuju lantai subuh

senja akan mengiring bayanganmu

kau kemudinya

cukup menuang bertumpuk diary purba

membakarnya dalam gelas

kau akan sampai ke tujuan

menamatkan subuh

terkantuk – kantuk berjumpa matahari

Juni 2008

biar sepi yang pergi  

biar sepi yang pergi

tak seperti daun – daun kering

mencium lekuk padang gemerisik

ada yang tertinggal di keriuhan kerlingan matanya

dan aku tak berniat mengambilnya barang secuil

biar lekat di sana

biar bersetubuh dengan daun – daun kering

biar meluncur,

menjelma anggur masam

dalam kuncup musim pancaroba

akhir Mei

Perempuan – perempuan nanar yang lupa  

Pelipis mencium kabut

Perempuan – perempuan nanar sembunyi balik selimut

Menghindar gigil

Dalam tidur menyisakan kabut

Menoreh dari tabrakan – tabrakan bayang bulan

Menerobos dengusan daun – daun

Menitik embun

Betapa gorden belum tersingkap

Hingga tengah hari

Perempuan – perempuan nanar masih lelap

Ia lupa

2008

kita lupa  

kita telah menjadi puing – puing

doa tak lagi punya angin pada malam

kita seperti botol – botol kosong

minus suara

angin meluruhkan ketergesaan kita

kita lupa

kita lupa siapa yang melingkar,

mendekap penuh hangat

keremangan menyelinap lewat jalan setapak

lengkung cahaya tersenyum, menanti kita

pada ujung menara

tapi kita pura – pura

bumi bangunkan tidur

dari akar –akar nafas berdenyut

membangun arakan kelupaan kita

kita kembali menekurinya

2008

selalu api yang menari  

dinding – dinding kamar berburai rupa

semakin rampak

nafas hanya dengar rinai melagukan lengang

suami tak tidur dalam ranjang

lepas dari perkawinan pawaka

sedang berkobar rupanya

suami tak lupa membawa kunci

diam – diam bergerak mendecitkan pintu yang tak terkunci

sisa – sisa lenguh dari panti pijat mengembang

kobaran api menarinari

tak pernah ringan

2008

aku mengingatmu sekali lagi  

kepada : Anwar

lewat udara yang terbakar

lewat nadi mencengkeram

aku pernah menemukanmu

disuatu malam yang bergetar

wajahmu yang dulu kulukis

pada keremangan katakata

aku mengingatmu sekali lagi

menuju kamar sempit di pelupuk mata

semacam testimoni :

dirimu tak pernah undur

aku masih mengingatmu sekali lagi

lewat laju darah menerkamu

20 April 2008

Katakan padaku : hitam itu indah  

ini bukan cerita senja yang beberapa putaran waktu lagi berbaur dalam hening dan sepinya hitam yang menyekapnya entah di negeri antah berantah.

Ini tentang pengawal malam yang mengantar mimpi senja beserta sesajen ataupun para dayang dan budak – budak setia ( agar tak termakan oleh hening dan sepinya hitam ) kepada embun yang selalu dibesarkan oleh pagi, esoknya.

Matesih, 18 Februari 2007

Takbir  

Aku hendak sembunyi dari elang mata mengintip

pada lubang kunci pintu belakang

dia yang utusan

Kau

pasalnya, aku mengeja takbir belum sempurna

dia nyelinap pada kuncup nadi

menyekap paru-ku dengan salam

aku bilang sudah

aku belum rampung mengemasi mimpi jingkrak

jingkrak mengharap langit dari gigir yang sembunyi

menenggelamkan takbir dalam parau

entah.

Kau maksud tentang takbir belum sempurna, benarkah?

Kau memapahku pada julur harap rindu

segala rindu

aku bilang nanti

Matesih, 21 Agustus 2007

Selanjutnya : aku  


aku pun masih mencium bau keringatmu

keringat yang kau gali dari kubangan darah

yang mengucur dari sela – sela nadi

dan dari situlah padi akan kau panen

darah, kini telah berhenti mengalir

tak kudapati lagi cangkul yang sengaja

kau pajang di ruang makan

hanya sisa – sisa bau keringat di bajumu

yang kini merayap dan lekat pada tubuhku

“ maafkan aku, sayang, aku lelah, biarkan darah itu mengucur dari tubuhmu dan kau yang akan menggali keringat “

Oktober 2007


Aku yang akan menyelesaikannya  

bukankah kita telah berjanji di atas bukit: menentang angin, mereguknya sebagai kemarau yang panjang?

tapi kau mengendap – endap meninggalkan petikan gitar yang pilu, mengental dalam sisa – sisa pementasan!

dan aku telah lelah merayu suara gitarmu turun dari arena

akan kurampungkan petikan gitarmu yang terakhir kali pada sunyi yang menguncup dalam darah, segera

September 2007